Sunday, November 4, 2012

Hadits Tentang Akhlak


Hadis adalah merupakan sumber hukum sesudah Al-Qur’anul Karim.Karena itu,semakin banyak hadis yang kita ketahui,maka akan semakin banyak pula hukum-hukum Allah yang kita jumpai.Dan orang yang banyak mengetahui hukum-hukum Allah maka berarti ia harus berjalan diatas jalur-jalur hukum itu,dan tidak akan berjalan diatas jalur hukum yang menghalalkan segala cara.Demikian itulah wujud sikap insan yang bertakwa.
Ada baiknya, jika sebelum membahas hadis-hadis yang berkaitan dengan akhlak di paparkan terlebih dahulu apa yang di maksud dengan akhlak,dibawah ini beberapa definisi akhlak menurut para ahlinya,diantaranya adalah:
v  Al-imam Al-ghazali : Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
v  Ibrahim Anis : Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa,yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan,baik atau buruk,tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
v  Abdul Karim Zaidan : Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa,yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk,untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.
Dalam Islam,akhlak merupakan sistem nilai yang merupakan subsistem dari sistem syari’ah Islam dimana aqidah,syari’ah (dalam pengertian khusus) dan akhlak menjadi subsistemnya.Oleh karena itu,akhlak manusia mencakup hubungannya dengan tuhan (vertikal), dengan sesama manusia (horisontal), dan dengan diri sendiri (internal).Bersyukur dan beribadah adalah wujud akhlak manusia sebagai makhluknya kepada tuhannya.Menghormati yang lebih tua,menyayangi yang lebih muda,membantu yang lemah adalah wujud dari akhlak manusia kepada sesama manusia.Menyayangi binatang,memelihara habitat binatang,memelihara lingkungan sebagai ekosistem adalah wujud akhlak manusia kepada binatang dan lingkungan.Jujur,sabar,pemurah adalah wujud akhlak manusia kepada diri sendiri.
Akhlak itu dibagi dua,yaitu: Akhlak mahmudah (terpuji) dan Akhlak mazmumah (tercela).Akhlak terpuji menurut Imam Ghazali ada empat perkara yaitu:bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik,keberanian menundukkan hawa nafsu dan bersifat adil.Jelasnya,ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti kepada keluarga (orang tua) dan negara,hidup bermasyarakat dan bersilaturrahmi,berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih,sabar dan ridho dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya.
Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamaddun dan kejayaan yang di ridhoi oleh Allah SWT,seperti kata pepatah mesir; “Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak”,Bila akhlak telah lenyap maka lenyap pulalah bangsa itu.
Akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah,yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, serta mau mengikuti ajaran-ajaran sunnah Rasulullah.Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati,ujub,dengki,sombong,hasud,suudzon,dan penyaki-penyakit lainnya.Akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya serta kerusakan lingkungannya, sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi.
A.      HADIS-HADIS YANG TERMASUK DALAM AKHLAK TERPUJI
v  Berbuat baik kepada kedua orang tua (Birrul walidain)
Istilah Birruwalidain berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn Mas’ud seorang sahabat Nabi yang terkenal bertanya kepada Rasululla tentang amalan apa yang disukai Allah SWT, Beliau menyebutkan: pertama: sholat tepat pada waktunya, kedua: birruwalidain, ketiga: jihad fisabilillah. Seperti hadist dibawah ini:
عن ابي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال:سالت النبي ص:اى العمل احب الى الله تعالى؟قال:الصلاة على وقتها. قلت:ثم اى:قال:بر الوالد ين.قلت: ثم اى؟الجهاد فى سبيل الله (متفق عليه)                 
Diriwayatkan dari Abu abdirrahman Abdullah ibnu mas’ud RA,dia berkata:aku bertanya kepada Nabi SAW:apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT?Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya”.aku bertanya lagi:kemudian apa?Beliau menjawab: “Birrul walidain”.kemudian aku bertanya lagi:seterusnya apa?Beliau menjawab: “Jihad fi sabilillah”.
Birrul walidain terdiri dari kata birru dan al-walidain. Birru atau al birru artinya kebajikan dan al walidain artinya dua orang tua atau ibu bapak. Jadi birrul walidain adalah berbuat kebajikan terhadap kedua orang tua.
A.   Kedudukan birrul walidain
Birrul walidain mempunyai kedudukan yang istimewa dalam ajaran islam. Ada alasan yang membuktikan hal tersebut antara lain:
Ø  Perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah di dalam Al-Quran langsung sesudah perintah beribadah kepada-Nya semata-mata atau sesudah larangan mempersekutukan-Nya.
Ø  Allah mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada ibu bapak
Ø  Allah swt meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak sesudah berterima kasih kepada Allah swt
Ø  Rasulullah meletakkan birrul walidain sebagai amalan nomor dua terbaik sesudah shalat tepat pada waktunya
Ø  Rasullulah meletakkan ‘uququl walidain( durhaka kepada ibu bapak) sebagai dosa besar nomor dua sesudah syirik
Ø  Rasulullah mengkaitlkan keridhaan dan kemarahan Allah dengan keridhaaan dan kemarahan orang tua
Demikianlah Allah dan Rasul-Nya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa sehingga berbuat baik kepada keduanya menempati posisi yang sangat mulia dan sebaliknya durhaka kepada keduanya juga menempati posisi yang hina. Secara khusus Allah juga mengingatkan betapa besar jasa dan perjuangan ibu dalam mengandung, menyusui merawat, dan mendidik anaknya. Kemudian bapak, sekalipun tidak ikut mengandung dan menyusui, tapi beliau berperan besar dalam mencari nafkah, membimbing, melindungi, membesarkan dan mendidik anaknya hingga mampu berdiri sendiri. Bahkan sampai waktu yang tak terbatas.
B.   Bentuk-Bentuk Birrul Walidain
Ø  mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan. Tetapi dengan satu catatan penting selama keinginan dan saran-saran itu sesuai dengan ajaran islam
Ø  menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan rasa terima kasih dan kasih sayang atas jasa-jasanya yang tidak dapat dinilai dengan apapun
Ø  membantu bapak dan ibu secara fisik dan materiil
Ø  mendo’akan kedua orang tua semoga diberi keampunan, rahmat,dll dari Allah.
Ø  setelah orang tua meninggal, birrul walidain dapat diteruskan dengan cara: menyelenggarakan jenazah dengan sebaik-baiknya, melunasi hutang-hutangnya, melaksanakan wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibina sewaktu hidup, memuliakan sahabat-sahabatnya, mendoakaannya.
v  Berbuat baik kepada tetangga
sesudah anggota keluarga sendiri, orang yang paling dekat dengan kita adalah tetangga. Merekalah yang diharapkan dahulu memberikan bantuan jika kita membutuhkannya, jika tiba-tiba kita ditimpa musibah. Begitu juga sebaliknya jika kita mendapat kebahagiaan kita akan berbagi dengan tetangga. Begitu pentingnya peran tetangga sampai-sampai Rasulullah menganjurkan kepada siapa saja yang akan membeli tanah atau rumah untuk memperhatikan siapa yang akan menjadi tetangganya.
Baik buruknya tetangga tergantung bagaimana kita bersikap kepada mereka. Oleh karena itu, sangat di mengerti kenapa Allah memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik dengan tetangga, baik tetangga dekat maupun jauh.
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. (Muttafaqun ‘alaih).
                                            
Dari hadits di atas dapat kita ambil pelajaran, untuk mengukur keimanan seseorang menurut cara Rasulullah saw. Yaitu agar keimanan seorang muslim dilihat dari tiga hal,yaitu: kebaikannya terhadap tetangga,berbuat baik kepada tamu dan perkataannya kepada orang lain. Tiga alat ukur yang sudah disampaikan oleh Rasulullah saw di atas bisa dijadikan barometer bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak menyakiti hati tetangga, menghormati tamu, dan berkata baik atau memilih diam menjadi kerangka ukur bagi orang yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir. Orang yang sudah mendeklarasikan beriman kepada Allah swt dan hari akhir, dilarang keras mengganggu apalagi menyakiti tetangga, baik fisik maupun psikhis. Menghormati dan memuliakan orang lain merupakan langkah baik untuk membangun relasi antara lembaga keluarga dengan tetangga.

C.  Pentingnya hubungan baik terhadap tetangga
Berkali-kali malaikat jibril memesankan kepada nabi muhammad untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai beliau mengira tetangga akan mendapatkan warisan. Dalam beberapa hadis,rasulullah menjadikan sikap baik dengan tetangga sebagai ukuran dari keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Sikap hidup bertetangga mempunyai hubungan yang signifikan dengan kualitas iman seseorang. Semakin kuat iman seseorang, semakin baik dia dengan tetanganya, begitu pula sebaliknya.Beliau bersabda:
من كان يؤمن با الله واليوم الاخر فليقل خيرااوليصمت,ومن كان يؤمن باالله واليوم الاخر فاليكرم جاره,من كان يؤمن باالله واليوم الاخر فاليكرم ضيفه (رواه البخارى ومسلم)                                                                          
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah ia berkata baik atau diam.Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah ia memuliakan tetangganya.Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah ia memuliakan tamunya,(Bukhori Muslim)
D.  Bentuk hubungan baik terhadap tetangga
Minimal hubungan baik dengan tetangga diwujudkan dalam bentuk tidak mengganggu atau menyusahkan mereka. Tidak menyakiti tetangga dengan kata-kata kasar dan tidak sopan.Yang lebih baik lagi tidak hanya sekedar menjaga sampai tetangga terganggu,tetapi secara aktif berbuat baik kepada mereka.Misalnya dengan mengucapkan salam dan bertegur sapa dengan ramah.Rasulullah menguraikan bagaimana cara berbuat baik dengan tetangga. Beliau bersabda:

حق الجار إن مرض عد ته,وإن مات شيّعته,وإن افتقر اقرضته,وإن اعون سترته,وإن اصابته خير هنأته,وإن اصابته مصيبة عزّيته,ولا ترفع بناءك فوق بنائه فتسدّ عليه الرّيح,ولا تؤذه بريح قدرك إلا أن تغرف له منها (رواه الطبرانى)

”hak tetangga ialah, apabila ia sakit kita menjenguknya, apabila ia meninggal, kamu mengiringi jenazahnya, apabila kita membutuhkan sesuatu, kamu meminjaminya,apabila ia tidak memiliki pakaian kamu memberikan pakaian, apabila ia mendapatkan kebajikan kamu mengucapkan selamat kepadanya, apabila ia mendapatkan musibah kamu bertakziah kepadanya, jangan kamu meninggikan rumahmu atas rumahnya sehingga angin terhalang masuk rumahnya, dan janganlah kamu menyakiti dengan bau periukmu kecuali kamu memberinya sebagian dari masakan itu.” (HR.Thabrani).

Seorang muslim harus peduli dan memperhatikan tetangganya. Mengulurkan tangan untuk mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi oleh tetangga. Jangan sampai terjadi seseorang dapat tidur nyenyak sementara tetangganya menangis kelaparan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadist:
ما امن بى من بات شبعانا وجاره جائع وهو يعلم (رواه البزار)
“Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.” (HR. Albazzar)
v  Hubungan baik dengan masyarakat
Selain dengan tetangga, seorang muslim harus dapat berhubungan baik dengan masyarakat yang lebih luas, baik d lingkungan pendidikan, kerja, sosial dan lingkungan lain. Baik dengan orang-orang yang seagama, maupun dengan pemeluk agama lain.
Hubungan baik dengan masyarakat sangat diperlukan karena tidak seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia secara fitranya adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat suatu keniscayaan  bagi mereka.
E.   Kewajiban sosial sesama muslim
Untuk terciptanya hubungan baik antara sesama muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan kewajibannya seorang muslim atas muslim lainnya. Beliau bersabda:
حق المسلم على المسلم خمس: ردّ السلام وعيادة المريض واتّباع الجنائز, وإجابة الدعوة,وتشميط العاطس.
(رواه الخمسة)
“kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainya ada lima: menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin”(Rowahul Khomsah)
Ø  Menjawab salam
Mengucapkan dan menjawab salam hukumnya berbeda. Mengucapkannya sunah, sedangkan menjawabnya wajib.
Ø  Mengunjungi orang sakit
Menurut rasulullah, orang-orang yang beriman itu ibarat satu batang tubuh,apabila salah satu anggota tubuh sakit,yang lain ikut perihatin.
Salah satu cara menerapkan hadits diatas adalah dengan meluangkan waktu mengunjungi saudara seagama yang sakit. Kunjungan teman, saudara adalah obat yang mujarab bagi si sakit. Betapa pentingnya mengunjungi orang sakit itu dapat terlihat dalam hadits qudsi berikut ini:
إن الله عزّوجلّ يقول يوم القيامة: يا ابن ادم مرضت فلم تعدنى! قال: يا ربى كيف أعوذبك وأنت ربّ العالمين؟ قال: أما علمت أنّ عبدى فلانا مرض فلم تعده؟ أما علمت لو عدته لوجدتنى عنده....(رواه مسلم)
“sesungguhnya azza wa jalla berfirman pada hari kiamat: “Hai anak Adam, Aku sakit kenapa kamu tidak datang mengunjungi-Ku? Anak Adam menjawab:” ya tuhan, bagai mana aku akan mengunjungi-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah berfirman:” tidaklah kamu tahu bahwa si Fulan hambaKu sakit, kenapa kamu tidak mengunjunginya? Tahukah kamu, jika kamu mengunjunginya niscaya kamu akan menemuiKu disisinya....(HR. Muslim)
Ø  Mengiringkan jenazah
Apabila seseorang meninggal dunia, masyarakat secara kifayah wajib memandikan, mengafani, mensholatkan dan menguburkan. Rasulullah sangat menganjurkan kepada masyarakat untuk dapat mensholatkan dan mengantarkan jenazah ke kubur secara bersama-sama. Beliau bersabda:
من شهد الجنازة حتى يصلّى عليها قيراط , ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان. قيل: وما القيراطان؟ قال: مثل الجبلين العظيمين (متفق عليه)
“barang siapa yang menyaksikan jenazah lalu ikut menshalatkannya, baginya satu qirath. Dan barang siapa yang menyaksikannyasampai dikuburka, baginya dua qirath. “ditanyakan orang:”apa itu dua qirath?” Beliau bersabda:”seperti dua gunung yang besar(pahalanya).”(HR. Mutafaqun ‘Alaih)
Ø  Mengabulkan undangan
Undang mengundang sudah menjadi tradisi dalam pergaulan bermasyarakat.Yang mengundang akan kecewa bila undangan tidak dikabulkan, dan akan lebih kecewa lagi bila yang berhalangan hadir tidak memberi kabar apa-apa.Oleh sebab itu,seorang muslim dianjurkan untuk memenuhi undangan yang diterimanya selama tidak berhalangan,dan acara-acara tersebut tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
Khusus untuk undangan walimahan(resepsi pernikahan) seorang muslimah wajib menghadirinya. Rasulullah bersabda:
إذا دعى احدكم إلى وليمة فاليأتها (متفق عليه)
“apabila seseorrang diantra kamu diundangmenghadiri walimahan, maka hendakah ia menghadirinya.”(HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Ø  Menyahuti orang bersin
Orang bersin disunatkan untuk membaca alhamdulilah, bersyukur kepada Allah, karena biasanya bersin pertanda badan ringan dari penyakit. Bagi yang mendengar (orang bersin mengucapkan Alhamdulillh), diwajibkan menyahutinya dengan membaca yarhamukallah (semoga Allah mengasihinya). Kemudian yang bersin menjawab yahdikumullah wa yushlib balakum(semoga Allah menujuki dan memperbaiki keadaanmu).

B.       HADIS-HADIS YANG TERMASUK DALAM HADIS TERCELA

v  Berburuk sangka
عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تحسسوا ولا تجسسوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا ولا تباغضوا وكونوا عباد الله إخوانا (رواه البخاري)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: ”jauhilah oleh kalian berprasangka, karena Sesungguhnya berprasangka itu ucapan paling dusta. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah memata-matai, janganlah saling bersaing, iri hati, benci dan berselisih. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (H.R. Bukhari).
Persaudaraan menjadi kata kunci pesan Rasulullah dalam hadits di atas. Dalam membina dan menjaga keutuhan persaudaraan, kita harus selalu menjauhi prasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, memata-matai, saling iri, dan benci satu dengan yang lain. Jika kita tidak bisa menjauhi apa yang sudah digariskan Rasulullah (kebiasaan jelek) di atas, maka yang tersisa adalah sebuah permusuhan dan saling membenci antara satu dengan yang lain. Tentu ini adalah awal bencana keretakan, ketidakrukunan dan hilangnya harmoni di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

v  Ghibah dan buhtan
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ. قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bertanya: “tahukah kamu sekalian, apakah menggunjing itu?” para sahabat berkata: “Allah swt dan Rasul-Nya lebih mengetahui’. Beliau bersabda: “yaitu bila kamu menceritakan keadaan saudaramu yang ia tidak menyenanginya”. Ada seorang sahabat bertanya: “bagaimana seandainya saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saudara saya itu?” beliau menjawab: “apabila kamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saudaramu itu, maka berarti kamu telah menggunjingnya, dan apabila kamu menceritakan apa yang sebenarnya tidak terjadi pada saudaramu, maka kamu bener-benar membohongkannya”. (H.R. Muslim).
Dari hadits di atas Nabi saw menjelaskan makna ghibah, yaitu dengan menyebut-nyebut orang lain dengan sesuatu yang ia benci, baik tentang fisiknya maupun sifat-sifatnya. Maka setiap kalimat yang kita ucapkan sementara ada orang lain yang membencinya, jika ia tahu kita mengatakan demikian maka itulah ghibah. Dan jika sesuatu yang kita sebutkan itu ternyata tidak ada pada dirinya, berarti kita telah melakukan dua kejelekan sekaligus: ghibah dan buhtan (dusta).
Imam Nawawi ra mengatakan, “Ghibah berarti seseorang menyebut-nyebut sesuatu yang dibenci saudaranya baik tentang tubuhnya, agamanya, duniannya, jiwanya, akhlaknya,hartanya,anak-anaknya,istri-istrinya,pembantunya,gerakannya,mimik bicarnya atau kemuraman wajahnya dan yang lainnya yang bersifat mengejek,baik dengan ucapan maupun isyarat”.
Tidak semua jenis ghibah dilarang dalam agama. Ada beberapa jenis ghibah yang diperbolehkan yaitu yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang benar dan tidak mungkin tercapai kecuali dengan ghibah. Ada enam jenis ghibah yang diperbolehkan, yaitu:
1.      Orang yang terdzolimi mengadukan kedzoliman yang dilakukan orang lain kepada penguasa atau hakim yang berkuasa yang memiliki kekuatan untuk mengadili perbuatan tersebut. Sehingga diperbolehkan mengatakan,”Si Fulan telah mendzalimi diriku” atau “Dia telah berbuat demikian kepadaku.”
  1. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran. Maka seseorang diperbolehkan mengatakan, “Fulan telah berbuat demikian maka cegahlah dia!”
  2. Meminta fatwa kepada mufti (pemberi fatwa) dengan mengatakan: ”Si Fulan telah mendzolimi diriku, apa yang pantas ia peroleh? Dan apa yang harus saya perbuat agar terbebas darinya dan mampu mencegah perbuatan buruknya kepadaku?”
Atau ungkapan semisalnya, Hal ini diperbolehkan karena ada kebutuhan. Dan yang lebih baik hendaknya pertanyaan tersebut diungkapkan dengan ungkapan global, contohnya: “Seseorang telah berbuat demikian kepadaku” atau “Seorang suami telah berbuat dzolim kepada istrinya” atau “Seorang anak telah berbuat demikian” dan sebagainya. Meskipun demkian menyebut nama seseorang tertentu diperbolehkan, sebagaimana hadits Hindun ketika beliau mengadukan (suaminya) kepada Rasulullah saw, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang sangat pelit.”
  1. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan, contohnya memperingatkan kaum muslimin dari perawi-perawi cacat supaya tidak diambil hadits ataupun persaksian darinya, memperingatkan dari para penulis buku (yang penuh syubhat). Menyebutkan kejelekan mereka diperbolehkan secara ijma’ bahkan terkadang hukumnya menjadi wajib demi menjaga kemurnian syari’at.
  2. Ghibah terhadap orang yang melakukan kefasikan atau bid’ah secara terang-terangan, seperti menggunjing orang yang suka minum minuman keras, dan perbuatan maksiat lainnya. Diperbolehkan menyebutkannya dalam rangka menghindarkan masyarakat dari kejelekannya.
  3. Menyebut identitas seseorang yaitu ketika seseorang telah masyhur dengan gelar tersebut. Seperti si buta, si pincang, si buta lagi pendek, si buta sebelah, si buntung maka diperbolehkan menyebutkan nama-nama tersebut sebagai identitas diri seseorang. Hukumnya haram jika digunakan untuk mencela dan menyebut kekurangan orang lain. Namun lebih baik jika tetap menggunakan kata yang baik sebagai panggilan.
والله أعلم باالصّواب
Referensi.
 Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc,. M.A. Kuliah Akhlaq. LPPI UMY2
Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, M.A. Al-Hadis”Aqidah,Akhlaq,Sosial,dan Hukum. Pustaka Setia.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment