Thursday, November 1, 2012

Akhlak Terhadap Orang Tua dan Guru Menurut Agama, Etika dan Budaya


A.                Akhlak kepada orang tua menurut agama

-          Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua orang tua.

-          Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak – anaknya.
Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al – Isra : 23
“Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada – Nya dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang  dari mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan “ ah “ dan jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata – kata yang sopan lagi lembut”

-          Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al – Isra : 24

‘Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih sayang”
-Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendo’akan kedua orang tua dengan do’a

            “Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil”
-Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
“Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu bapak”.(HR.At-Thabrani)
Dan juga terdapat dalam hadist
 “Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya didunia sebelum ajalnya tiba”.(HR.At- Thabrani dan Hakim)
Dan dalam hadist


“Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surge : orang yang mendurhakai ibu bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria”.(HR.An- Nasa’I dan Hakim)
-Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah satunya telah meninggal yaitu dengan :
1) Mendo’akan rahmat bagi keduanya
2) Memohon ampun atas dosa – dosa keduanya
3)Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan
4)Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat – sahabat orang tua.
(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )
-Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat syaithan.
Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam :14 dan 44

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang sombonglagi durhaka”(Qs.Maryam :14)

“Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada tuhan yang maha pemurah.(Qs.Maryam : 44)
-Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda :”Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu”.(HR.An-Nasa’I dan Ibnu Majah)
-Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan jiwa anak – anak kita kelak

“Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak – anakmu”.(HR.At-Thabrani dan Hakim).
Perintah ihsan  diletakkan oleh Allah dalam al qur’an langsung sesudah perintah beribadah hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .
Sebagaimana  firman Allah:

“Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:”Janganlah kamu menyembah  selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…….(QS. Al Baqarah:  83)
Allah SWT juga berfirman:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya  , ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu (QS. Luqman:14)
Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
“Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Mas’ud Ra. Dia berkata  “Aku bertanya kepada rosulullah :”Apa yang disukai oleh Allah SWT?” Beliau menjaw ab:”Salat tepat pada waktunya.”Aku bertanya lagi:”Kemudian  apa?”Beliau menjawab:”Birrul walidain .”Kemudian aku bertanya lagi: ”Seterusnya apa?”Beliau menjawab:”Jihad Fi sabilillah.” (HR. Mutafaqun ‘alaih)
Dari QS.  Al baqarah : 83 dan Hadits diatas , Allah dan rasulNya menempatkan orang tua pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik  kepada orang tua menempati posisi yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.
Bentuk-bentuk birrul walidain
Cara anak agar dapat  mewujudkan birrul walidain antara lain:
1.      Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek  kehidupan baik  masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan dengan agama . Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman :15

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan  tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti  keduanya dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik.”

2.      Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat, berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah
3.      Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara fisik  misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita sudah mempunyai penghasilan kita member ikan  sebagian penghasilan kepada kedua orang tua.
4.      Mendo’akan kedua orang tua  agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain
5.      Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya  : menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan wasiatnya,  meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan sahabat- sahabatnya dan mendo’akannya. 
B.                 Akhlak Kepada Guru Menurut Agama
·         Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.
·         Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

·         لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )
·         Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

·         مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )
·         Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :
·         إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.”( HR. Ahmad, Muslim dan Al-Hakim )
·         Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra :
·         وَ سَكَتَ النَّاسُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرَ

“Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” ( HR. Al-Bukhori )
·         Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.”( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan )
·         Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :
·         فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”( Qs. An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )
·         Rosululloh saw bersabda :
·         أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud )
·         Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :
·         يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَسْأَلُوْا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )
·         Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
·         إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
“Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )
·         Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.
Berkata Imam Maimun bin Mihron : “Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari kefahaman.” ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ )
·         Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :
·         الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ , قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ لِلَّهِ وَ لِكِتَابِهِ وَ لِرَسُولِهِ وَ لأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَ عَامَّتِهِمْ
“Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

C.                Akhlak terhadap orang tua menurut etika :
            Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
            Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
1.      Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada orang tua.
2.      Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.      Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan kata-kata yang kasar kepada keduanya.
4.      Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.
5.      Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah berusaha lanjut.
6.      Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.
7.      Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.      Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.
Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai berikut:
1.      Mendengarkan pembicaraannya.
2.      Melaksanakan perintahnya.
3.      Tidak berjalan di depannya.
4.      Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.
5.      Menjawab panggilannya.
6.      Berkemauan keras menyenangkan hatinya.
7.      Menundukkan badannya.
8.      Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.
9.      Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.
Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut etika

D.                Akhlak Kepada Guru Menurut Etika
Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar terhadap gurunya.
Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Mu’allim), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.
2.      Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3.      Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk mengambil manfaat dari beliau.
4.      Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan gurunya dan tidak melupakan jasanya.
5.      Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki perangai kasar dan keras.
6.      Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang, merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.
7.      Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan badan dan pakaian yang bersih.
8.      Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan hal-hal yang tidak berguna.
9.      Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan menampakkan kepandaian kepada guru.
10.  Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11.  Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis guru.
12.  Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak berguna
13.  Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada beliau.
14.  Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di tengah jalan.
15.  Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal yang tidak berguna.
16.  Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh guru  ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
17.  Seorang murid hendaklah tidak  mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
18.  Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19.  Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan, untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20.  Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.
21.  Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau.
22.  Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan –kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaiman kita menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita.
Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :
“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.” (HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)
“Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan) ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

A.                Kedudukan Guru
“ Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung “. Sebab, Ibu Bapak itu mendewasakan dari segi jasmani yang bersifat material, sedangkan Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi rohani yang bersifat spiritual dan universal.
Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mua’lim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur pusaka dalam menjalankansyari’at, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).

Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk menghormati para Ulama, meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para Da’I dan Muballigh selaku penyalur risalah kenabian, yang kini disebut Da’wah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya adalah yang berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.

B.                 Kedudukan Murid
Sabda Nabi Muhammad SAW  :
Perhatikanlah perkataan orang yang wajib ditaati antara Ulil Amri kamu dan taatilah perintah mereka meski yang menjadi Ulil Amri itu seorang budak sahaya asal Habsyi. (HR. Bukhori)

Ulil Amri itu adalah kepala pimpinan urusan, termasuk Guru, suami, Pemerintah.

Guru termasuk ulil amri karena mereka adalah pengganti ibu bapak yang mengasuh kita dalam pengajaran dan pendidikan yang sangat menentukan garis-garis kehidupan kita yang akan datang. Nabi SAW. bersabda, yang artinya:
“barangsiapa menghormati guru berarti ia menghormati Tuhannya.” (HR. Abu al-Hasan al-Mawardi)
Sebab, Tuhan menyampaikan ilmu kepada manusia lewat Nabi dan Rasul yang kemudian digantikan oleh ulama; dan guru. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim disebutkan sebagai berikut: “para pelajar tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, bila tidak menghormati ilmu dan memuliakan gurunya.”

C.                 Hak Murid dan Guru
Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya, tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun pribadinya, karena Nabi SAW bersabda yang artinya :
“Hargailah orang-orang yang kamu ajar. (HR. Abul Hasan al-Mawardi)
Maksud hadist ini adalah agar sang murid memperoleh perlakuan yang baik, wajar dari guru/ ustadz secara adil dan mengandung pendidikan tanpa pandang bulu, atau memendang siapa orang tuanya, anak siapa dia, golongan apa orang tuanya, ada hubungan apa dengannya suku atau bangsa mana dia.
Guru adalah teladan bagi murid-muridnya, sehingga apabila sekalipun bersifat acuh tak acuh, bersikap angkuh, dan sinis atau cengis, sungguh itu akan melahirkan sifat dendam dan kebencian yang terpendam dijiwa murid-muridnya.
Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan dan rasa cinta  serta simpatiknya, maka sekali-kalijangan mengharap remeh terhadap murid.

D.                Murka Terhadap Guru
Dalam sebuah hadist riwayat al-Baihaqi Nabi SAW bersabda :
 “Siapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan Allah kepada-Nya tiga bala : 1. Sempit rezekinya; 2. Hilang manfaat ilmunya; 3. Keluar dari dunia ini tanpa iman (wafat).
Dari hadist ini, kita dilarang meringan ringankan  guru, apalagi menghina, mencela atau menyakiti, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Walaupun guru sekarang berputar jadi murid kita, sebab walau bagaimanapun ‘Alimnya atau pandainya kita sekarang, yang namun Guru adalah juga sebagai ayah dari sebagaian ‘Ilmu kita. Sebab, gurulah pada waktu silam yang membekali dan menuntun kita saat kita masih buta dengan ilmu pengetahuan, mereka orang pertama yang mengajari kita dalam mengatur cara berfikir, berpakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, celakahlah orang yang tidak menginsyafi budi baik gurunya dan lupa pada jasa-jasa mereka dari kecil hingga kita dewasa. Bahkan dari dunia hingga keakirat kelak.

E.                    Akhlak Kepada Orang Tua Menurut Budaya
Akhlak kepada orang tua menurut budaya berarti sikap dan perilaku seorang anak kepada orang tuanya menurut suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama dan diwariskan dari generasi ke generasi. Akhlak seorang anak kepada orang tuanya tidak lepas dari peran orang tua itu sendiri dalam memberikan bimbingan serta memperkenalkan budaya sejak sang anak masih kecil.
Dalam hal ini, kami mengambil contoh dari budaya Jawa karena begitu erat kaitannya dengan agama Islam. Islam adalah agama yang damai, penuh toleransi. Lakum dinukum waliyadin, bagiku agamaku, bagimu agamamu. Begitu menurut Islam. Jawa adalah juga suku yang suka damai, luwes, dan kenyal terbuka terhadap pengaruh luar. Sewu sobat isih kurang, musuh siji wis kakehan. Seribu sahabat masih kurang, seorang musuh sudah terlalu banyak.
Islam mengajarkan Addinu husnul khuluk. Artinya, agama itu sesungguhnya adalah akhlak mulia. Seperti petuah Jawa Sing sujud karo Pangeran, sing bekti karo wong tuwa, sing rukun karo sedulur, sing asih karo sapepada.
Kita semua mesti tunduk dan pasrah kepada Allah SWT, berbakti pada orang tua, rukun dengan saudara, dan cinta kasih pada sesama makhluk. Itu semua kan cerminan akhlak mulia. Serupa dengan yang diamanahkan agama Islam: Khairukum, khairukum ti alihi. Artinya, sebaik-baik manusia adalah orang yang baik terhadap keluarganya, istri, dan anak-cucunya.
Seorang anak akan terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).
Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa ( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain).
Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo                     : Kulo bade kesah.
Ngoko                     : Aku arep lunga.
Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.
Sebagai catatan penutup perlu ditegaskan bahwa Islam tidak sama sekali menolak budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam penetapan hukum Islam dikenal salah satu cara melakukan ijtihad yang disebut ‘urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan pada budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dengan cara ini berarti budaya dapat dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw, maka budaya seperti itu dapat dilakukan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka budaya itu harus ditinggalkan dan tidak boleh dikembangkan.
F.                 Akhlak Kepada Guru Menurut Budaya
  1. Meneladani sikap dan sifat guru yang baik akhlaknya, tinggi ilmunya dan patut dicontoh.
  2. Mematuhi dan mengikuti guru.
  3. Tidak boleh meremehkan guru, harus senantiasa mengagungkannya dan meyakini ilmu yang dimilikinya.
  4. Selalu menghormati dan santun kepada guru walaupun tidak sedang berasa pada lingkungan sekolah.
  5. Bersikap sabar ketika guru sedang melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan apa yang kita tahu.
  6. Berterimakasih kepada guru atas segalailmu yang telah diberikan kepada kita.
  7. Berperilaku sopan kepada guru dimanapun kita berada dan kapanpun kita berjumpa.
  8. Berperilaku yang sopan serta lemah lembut kepada guru.
  9. Meminta izin kepada guru apabila ingin berbicara atau berpendapat atau bertanya kepada guru apabila guru sedang menjelaskan.
ilyas, Yanahar, Kuliah Islam, Yogyakarta: Lppl-UMY
hasan, Ali, Masail fiqhiyah al-haditsah, Jakarta: PT Grafindo Persada, 2003
Buku pelajaran Akhlak, Yogyakarta: Madrasah Mu’allimin-Mu’allimat Yogyakarta
Delsajoesafira.blogspot.com/2010/04/akhlak-anak-terhadap-orang-tua-dan.html
Zakie al-Kaaf, Abdullah, Etika Islami, Bandung : Pustaka Setia, 2002
Hamdani, Adz-Dzakiey, Psikologi Kenabian, Yogyakarta: al-Manar, 2008

2 comments: